Aku Nikmati Tubuh Tante Lia Janda Beranak Satu

by ceritadewasax on 07:30 PM, 16-Feb-13

Category: Cerita Dewasa

Di dekat kostku ada warung kecil yang lengkap, lengkap untuk kebutuhan harian, dari sabun mandi, kebutuhan dapur, dan lain-lain ada semua. di warung sebelah Aku sudah layaknya langganan. Kadang aku sudah ngga sungkan lagi untuk ngutang kalau lagi ngga bawa duit atau saat beli sesuatu uangku kurang.

pemilik Warung itu namanya Ibu Lia (aku lebih akrab manggilnya Tante Lia), seorang janda dengan satu anak. Warung Tante Lia bukanya pagi jam lima an, kemudian tutupnya sekitar jam sepuluhan malam. Tante Lia nungguin Warung itu sendiri bersama keponakannya yang masih SMA, namanya Mukti.

Seperti hari hari biasa, aku langsung mandi sepulang dari ngantor, terus habis pakai sarung aku nongkrong depan TV sambil nongkrong bersama teman-teman kostku. Aku bawa singkong goreng dan segelas kopi hangat kemudian kok serasa ada yang kurang…, apa ya..wah rokok, namun ketika aku melihat jam sudah menunjukkan jam 10 lebih (malam), aku jadi ragu-ragu, apa warung Tante Lia masih buka ya…?, aku cobain saja barangkali masih buka warungnya. wah, warung Tante Lia belum tutup tapi kok sepi…, “Mana yang jualan”, batinku.

“Tante…, Tante…, Dik Mukti…, Dik Mukti”, lho kok kosong, warung ditinggal sepi seperti ini, kali saja lupa nutup warung.

Aku mencoba memanggil sekali lagi, “Permisi…Tante Lia?”.

“Oh ya…, tungguu”, Ada suara dari dalam. Wah jadi deh beli rokok akhirnya.

Yang keluar ternyata Tante Lia kelihatannya baru selesai mandi juga habis keramas hanya pakai handuk yang dililitkan di dada, berjalan tergesa-gesa ke warung sambil mengucek-ngucek rambutnya.

“Oh…, maaf Tante, Saya mau mengganggu nich…, Saya mo beli rokok gudang garam inter, lho Dik Mukti mana?

“O…, Mukti sedang dibawa ama kakeknya…, katanya kangen ama cucu…, maaf ya Mas Rony Tante pake’ pakaian kayak gini… baru habis mandi sich”.

“Tidak apa-apa kok Tante, sekilas mataku melihat badan yang lain yang tidak terbungkus handuk…, putih mulus, seperti masih gadis-gadis, baru sekarang aku lihat sebagian besar tubuh Tante Lia, soalnya biasanya Tante Lia selalu pakai baju kebaya. Dan lagi aku baru sadar dengan hanya handuk yang dililitkan di atas dadanya berarti Tante Lia tidak memakai BH. Pikiran kotorku mulai kumat.

Malam gini kok belum tutup Tante..?

“Iya Mas Rony, ini juga Tante mau tutup, tapi mo pake’ pakaian dulu?

“Oh biar Saya bantu ya Tante, sementara Tante berpakaian”, kataku. Masuklah aku ke dalam warung, lalu menutup warung dengan rangkaian papan-papan.

“Wah ngerepoti Mas Rony kata Tante Lia…, sini biar Tante ikut bantu juga”. Karena pintu Warung depan sudah tertutup, aku pulang lewat belakang

“Trimakasih lho Mas Rony…?”.

“Sama-sama…”kataku.

“Tante saya lewat belakang saja”.



Saat aku dan Tante Lia berpapasan badanku menubruk tante di jalan antara rak-rak dagangan, tanpa kuduga handuk yang menutupi dilepit di dadanya terlepas, dan Tante Lia terlihat hanya mengenakan celana dalam merah muda saja. Tante Lia menjerit sambil secara reflek memelukku.

“Mas Rony…, tolong ambil handuk yang jatuh terus lilitkan di badan Tante”, kata tante dengan muka merah padam. saat tanganku mengambil handuk tante yang jatuh sambil berjongkok kini di depanku mukaku ada pemandangan yang indah banget, celana dalam merah muda berbackground hitam oleh rambut-rambut halus dan tercium harum di sekitar vaginanya. lalu aku segera berdiri sambil menutupi tubuh tante dengan handuk yang jatuh tadi. Tapi waktu aku akan menutupkan handuk tanpa sadar burungku yang sudah bangun sejak tadi menyentuh tubuh tante.

“Mas Rony…, burungnya bangun ya..?”.

“Iya Tante…, ah jadi malu Saya…, habis Saya lihat Tante seperti ini mana harum lagi, jadi nafsu Saya Tante…”.

“Ah tidak apa-apa kok Mas Rony itu wajar…”.

“Eh ngomong-ngomong Mas Rony kapan mo nikah…?”.

“Ah belum terpikir Tante…”.

“Yah…, kalau mo’ nikah harus siap lahir batin lho…, jangan kaya’ mantan suami Tante…, tidak bertanggung jawab kepada keluarga…, nah akibatnya sekarang Tante harus bersetatus janda. Gini tidak enaknya jadi janda, malu…, tapi ada yang lebih menyiksa Mas Rony… kebutuhan batin…”.

“Oh ya Tante…, terus gimana caranya Tante memenuhi kebutuhan itu…”, tanyaku usil.

“Yah…, Tante tahan-tahan saja..”.

Kasihan…, batinku…, andaikan…, andaikan…, aku diijinkan biar memenuhi kebutuhan batin Tante Lia…, ough…, pikiranku tambah usil.

saat itu bentuk sarungku sudah agak berubah, agak mengembung, sepertinya tante Lia memperhatikannya.

“Mas Rony burungnya masih bangun ya…?”.

Aku cuma mengangguk saja, kemudian di luar dugaanku, secara tiba-tiba Tante Lia meraba burungku.

“Wow besar juga burungmu, Mas Rony…, burungnya sudah pernah ketemu sarangnya belom…?”.

“Belum…!!”, jawabku berbohong, sambil terus diraba-raba naik turun aku mulai merasakan kenikmatan yang sudah sejak lama tidak pernah aku rasakan.

“Mas…, boleh ngga Tante melihat burungmu sebentar saja…?”, aku belum sempat menjawab, sarungku sudah ditarik Tante Lia, otomatis tinggal kaos oblong dan celana dalamku yang tertinggal.

“Oh…, sampe’ keluar gini Mas…?”.

“Iya emang Aku sendiri tidak tahu persis berapa panjang burungku kalau burungku lagi bangun panjangnya suka melewati celana dalam, …?”, kataku sambil terus kunikmati kocokan tangan Tante Lia.

“Wah…, Tante yakin, yang nanti jadi istri Mas Rony pasti bakal seneng dapet suami kaya Mas Rony…”, kata tante sambil terus mengocok burungku. Oughh…, serasa nikmat banget dikocok dengan tangan halus kecil putih tante Lia itu. tanpa Aku sadari terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu handuk yang kulilitkan Tante Lia tadi sudah dilepaskan lagi, aku tahu itu karena ternyata burungku sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang tidak terlalu besar itu.

“Ough…, Tante…, nikmat Tante…, ough…”, sambil bersandar berpegangan dinding rak dagangan aku mendesah, tante Lia kali ini memasukkan burungku ke bibirnya yang kecil, sambil sekali-kali menyedot dengan buasnya dia mengeluar masukkan burungku ke dalam mulutnya …, ough…, seperti terbang rasanya. Kadang-kadang buah salak yang dua itu dia juga sedot habis …, ough…, sesshh.

tiba-tiba tante menghentikan kegiatannya, Aku kaget, sambil berjalan ke meja dagangan yang agak ke sudut dia pegangi burungku, Tante Lia naik di atas meja membelakangiku sambil nungging, di depanku kini terpampang jelas sebongkah pantat yang bulat.

“Mas Rony…, berbuatlah sesukamu…, cepet Mas…, cepet…!”.
aku tarik celana dalamnya selutut Tanpa basa-basi lagi …, woow…, begini indah pemandangannya, sebuah vagina yang tidak terlalu banyak dengan bulu halus. Sulit dipercaya kalau Tante Lia sudah punya anak, vaginanya langsung aku jilati, harum, dan dari vaginanya ada begitu banyak keluar lendir asin. Aku melahap dengan rakus vaginanya tante Lia dengan menjilat-jilatkan lidahku di clitorisnya, beberapa kali aku memasukkan lidahku ke dalam lubang vaginanya.

“Ough Mas…, ough…”, sambil memegangi susunya sendiri tante mendesah.

“Terus Mas…, Maas…”, aku jadi semakin keranjingan, waktu aku julurkan lidahku ke dalam vaginanya, rasanya hangat dan denyutan-denyutan kecilnya semakin membuatku gila.

Kemudian dengan telentang di atas meja dan kedua paha ditekuk ke atas Tante Lia telah membalikkan badannya.

“Ayo Mas Rony…, Tante sudah tidak tahan…, mana burungmu Mas… burungmu pengin ke sarangnya…, woww…, Mas Rony…, burung Mas Rony kalau bangun dongak ke atas ya…?”. Aku hampir tidak dengar berkomentar Tante Lia soal burungku, yang aku lihat sebuah pemandangan sangat menantang, vagina sedikit berambut lembut, cairan harum asin membasahinya demikian terlihat mengkilat, aku langsung menancapkan burungku kebibir vaginanya.

“Aughh…”, teriak tante.

“Kenapa Tante…?”, tanyaku kaget.

“Udahlah Mas…, teruskan…, teruskan…”, aku masukkan kepala burungku di vaginanya, sempit sekali.

“Tante…, sempit sekali Tante.?”.

“Tidak apa-apa Mas…, terus saja…, soalnya sudah lama sich Tante tidak ginian…, ntar juga nikmat…”.

Yah…, aku paksakan sedikit demi sedikit…, baru setengah dari burungku amblas…, Tante Lia sudah seperti cacing kepanasan gelepar ke sana ke mari.

“Augh…, Mas…, ouh…, Mas…, nikmat Mas…, terus Mas…, oughh..”.

Begitu juga aku…, walaupun burungku masuk ke vaginanya cuma setengah, tapi sedotannya oughh luar biasa…, nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Kali ini burungku sudah amblas semua kedalam vagina Tante Lia. Keringat sudah membasahi tubuhku dan tubuh Tante Lia. Mendadak tante memelukku terduduk sambil, mencakarku.

“Oughh Mas…, ough…, luar biasa…, oughh…, Mas Rony…”, katanya sambil merem-melek.

“Sepertinya inilah yang disebut orgasme…, ough…”, burungku tetap di vagina Tante Lia.

“Mas Rony sudah mau keluar ya..?”. Aku menggeleng. Kemudian Tante Lia telentang kembali, aku seperti kesetanan menggerakkan tubuhku bergerak maju mundur, aku melihat susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk dan kuhisap puting susunya yang coklat kemerahan. Tante Lia semakin mendesah, “Ough…, Mas…”, tiba-tiba Tante Lia memelukku sedikit agak mencakar punggungku.

“Oughh Mas…, aku keluar lagi…”, kemudian dari kewanitaannya aku rasakan semakin licin dan semakin besar, namun denyutnya tambah terasa, aku dibuat terbang rasanya. Ach rasanya aku sudah mau keluar, sambil terus goyang kutanya Tante Lia.

“Tante…, Aku keluarin dimana Tante…?, di dalam boleh nggak..?”.

“Terrsseerraah…”,desah Tante Lia. Ough…, aku percepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh burungku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya spermaku aku muntahkan dalam vagina Tante Lia, masih aku gerakkan badanku rupanya kali ini Tante Lia orgasme kembali, dia gigit dadaku.

“Mas Rony…, Mas Rony…, hebat Kamu Mas”.



Aku kembali kenakan celana dalam serta sarungku. Tante Lia masih tetap telanjang telentang di atas meja.

“Mas Rony…, kalau mau beli rokok lagi yah…, jam-jam begini saja ya…, nah kalau sudah tutup digedor saja…, tidak apa-apa…, malah kalau tidak digedor Tante jadi marah…”, kata tante menggodaku sambil memainkan puting dan clitorisnya yang masih nampak bengkak.

“Tante ingin Mas Rony sering bantuin Tante tutup warung”, kata tante sambil tersenyum genit. Lalu aku pulang…, baru terasa lemas sakali badanku, tapi itu tidak berarti sama sekali dibandingkan kenikmatan yang baru kudapat. Keesokan harinya ketika aku hendak berangkat ke kantor, saat di depan warung Tante Lia, aku di panggil tante.

“Rokoknya sudah habis ya…, ntar malem beli lagi ya…?”, katanya penuh pengharapan, padahal pembeli sedang banyak-banyaknya, tapi mereka tidak tahu apa maksud perkataan Tante Lia tadi, akupun pergi ke kantor dengan sejuta ingatan kejadian kemarin malam.

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Email:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images